Selasa, 03 Mei 2016

Rejeki di jemput, bukan dicari

 
Sebagaimana yang kebanyakan orang pahami, bahwa sebenarnya rejeki itu, sudah ada dan disediakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, tinggal bagaimana kita berusaha untuk mendapatkannya / menjemputnya, bukan berusaha untuk mencarinya. Contoh : Seorang Tenaga Penjual menawarkan barangn kepada calon konsumen,  Calon Konsumen itu adalah manusia yang berminat dan mau membeli barang yang kita tawarkan, pertanyaannya adalah: “Adakah calon konsumen dari sekian banyak orang atau masyarakat yang mau dan membeli barang yang kita tawarkan ?” 

Jawabnya pasti ada, jadi kita tidak perlu mencari lagi, tinggal bagaimana kita menjemput calon konsumen itu dengan cara menawarkan / menjual barang yang kita tawarkan, dan cara menawarkan barang kepada calon konsumen harus dan dapat dilakukan dengan sikap yang sopan, ramah, menarik, menyenangkan, semangat, mendengarkan calon konsumen berbicara dengan antusias, dan lain-lain, sehingga calon konsumen merasa sangat diperhatikan dan dilayani dengan baik, dengan cara seperti ini timbulah rasa tertarik calon konsumen, yang akhirnya menimbulkan minat untuk membeli, dan lalu membeli barang yang kita tawarkan.

Kita harus yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa, telah menyediakan rezeki kepada seluruh  makhluk ciptaan-NYa, termaksud manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, baik seluruh makhluk yang melata dan berjalan di muka bumi, maupun yang ada di udara dan di dalam laut yang paling dalam sekalipun, telah disediakan rezekinya masing-masing, sehingga bisa bertahan hidup.
Begitu pun semua bentuk bisnis yang dilakukan oleh semua orang di muka bumi ini, juga diberikan rezekinya masing-masing, dan untuk memilikinya harus dengan jalan usaha atau berusaha dengan baik dan benar. Contohnya: Mereka yang berbisnis menjual barang Elektronik dengan cara pembayaran tunai juga laku dan ada konsumennya, begitu juga mereka yang menjual barang Elektonik yang menjual dengan  pembayaran secara kredit juga laku dan ada konsumennya, ini mencerminkan keadilan sang pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Kesimpulannya adalah kita harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa rezeki itu sudah ada dan disediakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, selanjutnya adalah bagaimana kita berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkannya dengan cara masing-masing, tentunya disarankan dengan cara yang baik dan benar.

Apabila yang kita yakinkan adalah rejeki itu dicari, maka dalam proses pencarian rezeki kita tersebut, bisa kita dapatkan dan bisa juga  tidak bisa kita dapatkan, karena kita mencari, jadi rezeki kita belum ada masih dicari, oleh karena banyak dari sebagian orang yang tidak menyakinkan hal ini, akibatnya mereka selalu mencari, dan kata mencari itu mengadung arti ketidak pastian bisa dapat dan bisa tidak. Contohnya: Seorang Tenaga Penjual hari ini mau mencari Order (rezeki), karena mau mencari order (rezeki) bisa dapat bisa tidak, akan tetapi kalau Tenaga Penjual itu yakin 100% bahwa order (rezeki) itu sudah ada, yaitu ada pada setiap masyarakat atau orang lain yang kita kunjungi yang kita sebut calon konsumen, dan Tenaga Penjual itu hanya berusaha menjemputnya  untuk mendapatkannya dengan cara menawarkan yang menarik,  baik dan benar, maka sudah dipastikan akan mendapatkan Order (rezeki) tersebut. Kita harus selalu ingat, bahwa sekecil kecilnya usaha yang kita lakukan, pasti akan ada hasil yang kita dapatkan sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Jadi rezeki itu memang sudah ada, tinggal bagaimana kita  berusaha / menjemput  untuk mendpatkannya.

Kita harus benar-benar yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa menjadikan kita untuk hidup didunia, dengan diberikan seperangkat rejekinya untuk kehidupan di dunia. Persoalannya adalah bagaimana cara kita mengusahakannya / menjemputnya untuk mendapatkan rezeki tersebut, seperti dengan rajinkah, penuh semangatkah, kerja keraskah, dengan seriuskah.


Senin, 02 Mei 2016

Meningkatkan Kinerja


Bekerja adalah melakukan aktivitas yang menghasilkan, umumnya menghasilkan materi atau uang. Untuk dapat melakukan pekerjaan dengan hasil yang optimal, tentunya setiap saat kita harus   meningkatkan wawasan, pengetahuan,  kemampuan atau keterampilan  untuk lebih memahami pekerjaan yang ada. Mengapa demikian, karena seseorang akan bertambah baik kinerjanya (hasil kerja), disadari atau tidak disadari, bila wawasan, pengetahuan, kemampuan, dan keterampilannya bertambah.

Untuk tujuan mendapatkan hasil yang optimal maka seorang Tenaga Penjual atau sipapun, harus terus-menerus meningkatkan wawasan, pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya, dengan demikian yang harus kita lakukan adalah :

Selalu belajar, dan belajar, jangan berhenti untuk belajar seumur hidup kita. Kunci keberhasilan atau sukses  yang paling fundamental (mendasar) adalah belajar. Orang yang berpendidikan tinggi bisa sukses, dan orang yang tidak berpendidikan tinggi juga bisa meraih sukses, akan tetapi hampir tidak mungkin dan sangat mustahil orang bisa meraih sukses tanpa proses belajar. Belajar itu tanpa batas, kita bisa belajar dari siapa saja dan dari mana saja, dan dimana saja, Contoh: Kita bisa belajar dari orang lain yang sudah berhasil melalui pengamatan dan berdiskusi, dan juga kepada orang yang tidak berhasil untuk sebagai masukan atau hikmah supaya kita lebih waspada jangan sampai tidak berhasil, kita juga bisa belajar dari pengalaman kita sendiri baik pengalaman yang baik maupun yang buruk, kita bisa belajar dimana saja, seperti diruangan yang ada AC-nya, disuatu tempat di warung kopi, di lapangan, dan dimana saja, tanpa harus terikat pada tempat yang ber-AC saja atau terikat pada satu tempat saja.

Evaluasi dan instropeksi diri terhadap hasil kerja. Melakukan evaluasi terhadap hasil pekerjaan kita adalah langakah yang paling tepat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kita menyelesaikan pekerjaan kita, apakah sudah sesuai dengan target yang ditentuka bahkan over target, atau jauh dibawah target. Hasil evaluasi ini dapat menyadarkan diri untuk memotivasi dan memacu untuk bekerja lebih baik lagi. Ada pendapat yang mengatakan melakukan instropeksi diri itu adalah “Merupakan perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.” Ungakapan ini bermakna bahwa sulit bagi seseorang untuk melakukan evaluasi atau koreksi terhadap diri sendiri. Untuk itulah kita harus bisa melakukannya, karena dengan selalu melakukan instropeksi diri, banyak hal yang akan kita dapatkan, seperti masukan-masukan dari orang lain dapat membantu  menyadarkan diri kita, dan kita lebih memahami mengenai diri kita sendiri, baik kekurangan maupun kelebihan kita, sehingga akan lebih mudah bagi untuk melakukan perbaikan diri.


Bila dalam bekerja kita menghadapi kesulitan, hambatan, dan masalah, sebaiknya langkah pertama kita harus menenangkan diri dulu, baru kemudian pelajari masalah tersebut dan berusaha dengan sungguh-sungguh mencari solusi atau jalan keluar yang terbaik. Kita harus yakin bahwa setiap masalah atau kesulitan selalu diikuti oleh jalan keluarnya.

Kita harus menempakan diri pada situasi dan kondisi Kritis, sehingga kita selalu terpacu atau termotivasi setiap saat untuk melakukan yang terbaik, untuk bisa tetap bertahan dalam keadaan krits, bahkan bisa dengan baik keluar dari Kritis. Ini dimaksudkan agar kita bisa bersaing kepada diri kita sendiri, dan dapat melakukan perbaikan diri terus menerus. “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini.”

Menentukan sasaran atau target pribadi harus setinggi-tingginya, disesuaikan dengan kemampuan untuk mencapainya dan menentapkan waktu untuk mencapainya. Hal ini dapat membuat kita selalu tertantang dan menguji kemampuan diri kita sendiri. Begitu juga kita harus dapat memahami bahwa semakin besar sararan atau semakin tinggi target yang dapat kita capai, maka semakin banyak juga penghasilan yang kita dapatkan, sehingga kehidupan kita akan bertambah sejahtera.


Selamat meningkatkan Kinerja ......
 

T o t a l i t a s

Bagi seorang tenaga penjual yang selalu berkeinginan untuk menaikan hasil penjualannya dan tentunya berkaitan dengan pendapatannya, maka harus bertanya pada diri sendiri, sudah berapa besarkah kita melakukan pekerjaan kita sebagai tenaga penjual ? Tenaga penjual itu sendirilah yang bisa menjawabnya. Bekerja dengan hasil yang baik tentunya berkaitan dengan cara kerja yang dilakukan, contoh bila kerjanya setengah-setengah, dan mereka menginginkan hasil yang baik tidaklah mungkin. 

Bila ingin penghasilannya baik sesuai dengan keinginannya, maka mereka harus kerja dengan keras dan usaha yang sungguh-sungguh, serta totalitas.

Banyak pendapat dan banyak orang yang menyebut-nyebut kata totalitas di segala bidang perbuatan atau pekerjaan, apa sih sebenarnya totalitas itu ? Bagaimana mewujudkannya ? Nah,  penulis ingin berbagi mengenai pemahaman tentang totalitas dengan maksud tidak menyalahkan dan disalahkan. Menurut hemat penulis yang namanya totalitas adalah  melakukan sesuatu atau mengerjakan sesuatu dengan daya upaya 100 % dengan mengerahkan segala kemampuan terbaik yang dimilikinya untuk memperoleh hasil yang baik yang diinginkannya.

Jadi bila seorang tenaga penjual bekerja dengan totalitas, tidak adalagi pertanyaan-pertanyaan atau alasan-alasan, dan atau keluhan-keluhan dari dirinya, yang meragukan, contoh, targetnya telalu tinggi pak, saya tidak punya banyak waktu pak, bulan ini tidak mungkin pak, dan sebagainya. .Ini juga yang bisa menjadi indikator bagi seseorang yang bekerja dengan totalitas atau tidak, disamping dari indikator hasil yang didapatnya.

Bagainmana sih mewujudkan totalitas ? Menurut hemant penulis totalitas itu adalah akibat dari sebab, dan sebab dari totalitas adalah komitmen yang sangat kuat untuk mewujudkan mimpinya, cita-citanya, dan atau tujuan hidupnya. Contoh : Komitmen seorang tenaga penjual : " Menjual adalah pekerjaan saya. Inilah pekrjaan utama saya, saya yakin seyakin yakinnya, inilah pemberian Tuhan yang terbaik saat ini, dan saya yakin saya akan menjadi orang kaya raya." Bila saja komitment ini diucapkan dengan tidak pura-pura atau hanya dibibir saja, niscahya yang namanya totalitas akan muncul. Komitmen yang kuat akan menggerakan semangat juang yang tinggi yang stiap saat digunakan untuk mewjudkan mimpinya, cita-citanya, dan tujuan hidupnya.

Kesimpulannya : Totalitas itu terwujud dimulai dari mimpi, cita-cita, dan tujuan hidup yang kuat, sehingga memiliki alasan yang kuat dan menciptakan komitmen yang kuat untuk mewujudkannya, di sinilah totalitas akan muncul. Mau atau tidak, suka atau tidak suka, mencintai atau tidak mencintai pekerjaannya itu adalah efek lain dari mimpi, cita-cita, dan tujuan yang kuat dan koimitmen yang kuat untuk mewjudkannya, sehingga timbulah totalitas untuk mencapai dan wewujudkannya apa pun yang akan terjadi. Kata kuncinya adalah bila pekerjaan dan kegiatan apapun bila dikerjakan secara atau dengan totalitas yang tinggi, maka hasilnyapun akan baik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Salam Totalitas ... 







Minggu, 01 Mei 2016

Pengertian Menjual


Sejak zaman dahulu kala, zamannya nenek moyang kita,  orang telah melakukan penjualan. Cara yang dilakukan adalah dengan sistim   barter, yaitu  tukar menukar barang. Pada saat itu belum ditemukan dan di sepakati uang sebagai alat pembayaran. Tujuan pada waktu itu adalah memenuhi kebutuhan sehar-hari contoh yang memiliki beras dan atau gandum akan ditukarkan dengan sekerat daging atau seember ikan, begitu juga sebaliknya yang memilik daging atau ikan ditukar dengan gandum atau beras, dan lain-lain jenis dan penukaran barang yang mereka lakukan sebagai aktivitas penjualan dan pembelian.

Setelah ditemukan dan  disepakati uang sebagai alat pembayaran yang berlaku, maka kegiatan jual beli dalam bentuk barter ini sejalan dengan waktu dan peradaban manusia yang semakin maju atau modrn telah di tinggalkannya.

Menjual itu mudah bahkan sangat mudah sekali, semua orang bisa melakukan, bahkan ketika kita masih di dalam perut pun sebenarnya sudah menjual, contoh, bayi di dalam kandungan menendang-dendang rahim atau perut ibunya, itu mungkin dia minta makan agar ibunya minum susu atau minum vitamin atau minta di elus-elus, lalu si ibu pasti mengelus-ngelus perutnya sambil minum susu dan vitamin.

Ketika masih bayi, baru satu sampai tiga bulan,  contohnya pada saat belum bisa berbicara, seorang bayi menangis bila lapar atau haus, ngamuk atau menggeliat-geliat bila kegerahan, karena udara yang panas dan tidak nyaman, hal ini sebenarnya bayi  te rsebutsudah melakukan penjualan.

Berdasarkan penjelasan di atas,  dan dalam kontek ini bahwa sebenarnya ketika kita  masih berada di dalam kandungan dan ketika masih sangat balita, kita telah di berikan kemampuan untuk berkomunikasi dalam hal ini adalah komunikasi dengan melakukan  gerakan-gerakan tertentu, gerak -gerik atau panto mimik, lambang khusus, ekspresi wajah, sehingga si ibu memahami apa yang diinginkannya. Kemampuan berkomunikasi ini, bisa disimpulkan sejak masih bayi kita sudah melakukan “Komunikasi Pennjualan,” yaitu bagaimana mempengaruhi si ibu agar ibunya  mengetahui, memahami, sehingga melakukan sesuatu yang diinginkan oleh si bayi tersebut.

Jadi kesimpulannya adalah tidak ada alasan yang kuat untuk orang yang tidak bisa melakukan penjualan, oleh karena itu kita harus meyakinkan diri kita bahwa kemampuan menjual itu sudah kita miliki sejak masih dalam kandungan merupakan salah satu karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita wajib mensykurinya, memanfatkannya, dan mengembangkannya untuk kehidupan kita yang lebih baik di jalan yang di ridhoi-Nya.

Dalam perkembangannya kedepanhya, menjual itu sangat mudah sekali, kata kunci menjual itu adalah “MENAWRAKAN.” Maksudnya adalah menawarkan apa yang kita miliki atau yang akan kita tawarkan  (barang atau jasa), lebih lanjut lagi menjual adalah menawarkan dengan cara semenarik mungkin kepada sebanyak mungkin orang atau calon konsumen.

Menawarkan semenarik mungkin yang dimaksudkan di sini adalah  harus berorientasi kepada calon konsumen, atau melihat apa kebutuhan atau keinginan calon konsumen, perlakuan atau pelayanan apa yang di sukai calon konsumen atau kebanyakan calon konsumen baik yang sudah baku berlaku secara universal atau perlakuan khusus.  Contoh semua calon  konsumen menginginakan suasana yang menyenangkan, ini yang berlaku universal jadi kita harus tersenyum, ramah, dan tidak menyebarkan bau yang kurang sedap, dan lain-lain, yang bersifat khusus, contohnya bila calon konsumen kita mempunyai suatu kesenangan atau hobby misalnya dia hobby sepak bola dan menceritakannya pada kita, kita harus menanggapi dengan serius dan komentar-komentar yang mendukung apa yang di ucapkan calon konsumen tersebut, sehingga calon konsumen tersebut merasa senang, karena calon Konsumen merasa mendapat lawan bicara yang cocok dan lain-lain.

Lebih lanjut tujuan seseorang  melakukan penjualan atau menjual adalah untuk mendapatkan uang, contohnya kita bisa melihat pada jaman dahulu, pernah kita dengar dengan panggilan Saudagar atau Toukeh ( bos atau pemilik modal dan perdagangan dari para pedagang ). Oleh karena itu, kegiatan menjual seperti para pedagang yang melakukan penjual dapat memiliki uang yang banyak, atau mereka para pedagang menjadi kaya raya memiliki uang dan harta yang berlimpah dengan melakukan kegiatan menjual.

Kita bisa melihat di sekeliling kita, lihatlah dan amatilah banyak orang yang melakukan kegiatan menjual, kehidupannya pasti lebih baik dan memiliki kekuatan ekonomi yang lebih baik, tentunya kita lihat para pedagang atau pengusaha yang tekun dan berhasil melakukan penjualan atau berdagang. Seperti kata-kata bijak  bahwa 9 dari 10 pintu rezeki ada pada penjualan atau perdagangan.

Perkembangan selanjutnya adalah kegiatan menjual menjadi sebagai suatu profesi seperti halnya prosesi seorang pengacara, Hakim, Dokter, Polisi, guru dan lain-lain, kenapa seperti itu, karena kegiatan menjual tujuannya adalah melakukan kegiatan untuk bekerja mencari nafkah atau mendapatkan uang dalam usaha memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarga, Hakim, Dokter, Guru, Polisi, dan yang lain-lain  juga bekerja mencari nafkah atau mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya sendiri dan keluarga. Jadi sama-sama mencari dan mendapatkan uang  dan profesi menjual juga membutuhkan keterampilan, misalnya bagaimana cara atau teknik menawarkan yang menarik, cara merayu atau mempengaruhi calon konsumen ( Salesmenship), cara menentukan harga (Price Knowledge), pengetahuan tentang produk (Product Knowledge), sama denganm profesi seorang Dokter, Hakim, Pengeacara, Polisi, dan lain-lain yang harus memiliki keterampilan-keterampilan  sesuai bidangnya.

Disamping itu semua profesi pasti berkerja atau beraktivitas untuk melayani orang lain atau masyarakat, begitu juga dengan profesi menjual melayani orang lain  atau masyarakat, yaitu membantu orang lain atau masyarakat untuk mendapatkan perasaan  senang atau puas yang mereka inginkan atas apa yang mereka beli dan atas diri mereka sendiri. Jadi menjual itu merupakan suatu profesi, sama dengan profesi lainnya yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat diseluruh dunia.

Bahkan kalau kita kaji lebih dalam lagi, menjual adalah kegiatan ekonomi yang paling sehat, tidak ada kegiatan ekonomi yang paling sehat keculai menjual, karena dengan menjual kita akan memperoleh keuntungan berupa uang, dan dengan uang tersebut bila jumlahnya relatif banyak kita dapat melakukan dan mendukung kegiatan-kegiatan ekonomi  lainnya.

Berprofesi sebagai tenaga penjual, bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tanpa di batasi, tentunya dengan melakukan penjualan sebanyak mungkin yang kita mampu, tanpa ada yang bisa menbatasinya. Selanjutnya kita juga bisa mengatur berapa banyak penghasilan kita dalam satu hari, satu mimggu, satu bulan, satu tahun, begitu juga dengan jam kerja kita, serta apapun yang kita lakukan terserah kita sendiri tanpa ada ikut campur orang lain, kelompok atau oraganisasi lain dan atau ikut campur pihak lain.


Kamis, 28 April 2016

Sukses = Berani Untuk Mencoba Terus Menerus

Ada pendapat yang mengatakan sukses adalah terus menerus mencoba, dan ada juga sesuatu itu sulit karena kita belum mencobanya, penulis sepaham dengan pendapat tersebut, karena coba kita lihat saja pengalaman penemu bohlam lampu pijar saat itu, bapak Thomas Alfa Edison, yang melakukan percobaan selama 999 percobaan, sehingga akhirnya percobaan yang ke 1000 akhirnya berhasil menemukan lampu pijar yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. 

Penulis berpendapat bahwa apabila seseorang sudah punya mimpi, cita-cita, tujuan dan harapan dalam hidup dan kehidupannya, tapi bila orang tersebut tidak punya keberanian untuk mencoba memulai, dan tidak berani mencoba terus menerus untuk mewujudkannya, dengan berbagai macam alasannya, misalnya, dia ingin berusaha, belum juga mulai berusaha, dia sudah menyebutkan alasan-alasannnya seperti takut ketipulah, bisnis itu jahatlah nanti kalau sudah sukses bisa dirampoklah, takut rugilah, dan sebagainya, maka orang tersebut tidak akan pernah sukses untuk menjadi pengusaha. 

Berani untuk mencoba terus menerus yang penulis maksudkan disini adalah apabila kita punya mimpi, cita-cita, ataupun tujuan, kita harus menentapkan hati untuk berani memulai
mencoba mewujudkan apa yang kita impikan, cita-citakan, dan tujuan yang kita inginkan,  dan juga berani mencoba mewujudkannya terus menerus sampai berhasil, walau dalam prosesnya kita mengalami hambatan-hambatan atau kegagalan-kegagalan, kita terus menerus mencobanya mewujudkannya sampai mencapai keberhasilan.

Berani mencoba terus menerus mengandung makna sebagai berikut:

1. Perilaku yang kita ualng-ulang dan atau tersus menerus akan menimbulkan kebiasaan, yaitu kebiasaan kita untuk mengatasi kesulitan atau persoalan dalam mencapai hasil yang sesuai kita inginkan, dan terus berpikir serta  terus berbuat untuk menyelesaikan kesulitan dan persoalan tersebut.

2. Mulai mencoba yang penulis maksudkan disini adalah kita mulai berbuat sesuatu atau mengerjakan sesuatu untuk mengetahui situasi dan kondisi yang benar-benar terjadi apakah sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak. Bila hali ini sudah dilakukan, kita dapat melakukan evaluasi apakah yang kita lakukan sudah benar dan tepat, atau tidak benar dan belum tepat, selanjutnya bisa kita lakukan perbaikan. akan tetapi bila kita tidak berani memulai mencoba, apanya yang bisa kita nilai, apa yang bisa kita evaluasi, tentunya tidak ada, wong kita belum melakukannya.

3. Berani mencoba yang penulis maksudkan disini adalah mempunyai ketetapak hati atau hati yang lurus dan mantap dengan percaya diri yang besar dalam mengahadapi bahaya, hambatan, kesulitan dan sebagainya.

4. Dalam mewujudkan mimpi, cita-cita, dan tujuan kita hendaknyalah diwujudkan dan atau dikerjakan jangan tanggung-tanggung atau setengah-setengah, karena kalau tanggung-tanggung atau setengah-setengah, hasilnya juga akan tanggung dan setengah saja.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bila kita ingin sukses beranilah untuk memulai dan beranilah untuk terus menerus mewujudkan apa yang sudah kita tetapkan sebagai mimpi kita, cita-cita kita, dan tujuan hidup kita, sampai terwujud, walaupun dalam prosesnya kita mengalami hambatan, dan kesulitan  yang harus dengan berani juga kita atasi dan mencobanya lagi, walupun harus dari awal lagi.

Salam Sukses Selalu ...

Rabu, 27 April 2016

Kemampuan Bernegosiasi

Manusia diberikan mulut oleh Tuhan, fungsinya bukan hanya untuk makan dan minum, tapi juga untuk mengungkapkan maksud, dan diwujudkan melalui bicara. Kemampuan bicara atau berkomunikasi semua manusia pada dasarnya adalah sama, yang membedakannya adalah jelas, dapat dimengerti, dan efektif.

Berbicara atau berkomunikasi yang KOMUNIKATIF berbeda dengan berkomunikasi yang EFEKTIF. Komunikatif artinya apa yang kita bicarakan dimengerti dan dipahmi oleh lawan bicara kita, karena jelas, sederhana dalam arti mudah dipahami, dan singkat dalam arti tidak bertele-tele. Jadi pengertiannya lawan bicara kita mengerti dan paham saja tatpi tida melakukan apa yang kita komunikasikan atau apa yang kita inginkan.

Sedangkan Komunikasi yang EFEKTIF adalah efek atau akibat yang ditimbulkannya dari apa yang kita komunikasikan sesuai dengan yang kita inginkan Contoh : Saya berkeaa pada seseorang : "Besok kamu masuk kantor datang lebih awal jam 07.00 pagi, dan bawa sarapan nasi uduk buat saya ya ... " Besoknya orang tersebut datang tepat jam 07.00 pagi dan membawa sarapan nasi uduk buat saya. Ini namanya saya berkomunikasi dengan Efektif. Tapi bila orang tersebut mengerti saja, tapi tidak dijalankan, yaitu tidak datang jam 07.00 pagi dan tidak membawa nasi uduk buat saya, berarti saya berkomunikasi hanya KOMUNIKATIF saja tidak EFEKTIF. Komunikasi yang komunikatif belum tentu efektif, tapi komunikasi yang efektif sudah pasti komuinikatif. Masalahnya adalah bagaimana caranya agar komunikasi kita komunikatif dan efektif.... ?

Kemampuan berkomunikasi atau berbicara banyak ragamnya seperti, sebagai Pembawa Acara (MC), Negosiator, Orator, Public Speaking, Provokator, dan lain-lain. Jadi bernegosiasi merupakan salah satu bentuk atau cara dari bagaimana kita berkomunikasi atau teknik berkomunikasi.

Hakekatnya dengan berbicara atau kemampuan bicara dapat menyelesaikan semua masalah atau permasalahan yang ada dengan cara yang baik dan bersahabat, tidak menggunakan cara-cara yang kasar, mengacam, dan perseteruan berkepanjangan. Contoh : Bagi yang sudah berkeluarga, tidak perlu kita harus dan sealalu marah-marah bila terjadi perselisihan baik dengan istri, anak-anak kita, dan orang lain, cukup dengan kita ajak duduk bersama, kemudian kita ungkapkan bersama apa yang menjadi penyebab perselisihan dan bahas jalan keluarnya dengan selalu mengutamakan kepentingan kita bersama.  Bila ini kita jalankan dengan niat dan etikad baik, maka semua perselisihan dapat diselesaikan dengan pembicaraan, baik perselisihan yang terjadi di lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluaga, serta semua perselisihan atau perbedaan-perbedaan pandangan dengan orang lain dapat diselesaikan dengan pembicaraan yang baik dan benar.

Berdasarkan tinjauan secara hakekat diatas, penulis mencoba berpendapat dan menyimpulkan bukan untuk disalahkan dan menyalahkan, bahwa Kemampuan berkomunikasi dalam menyatukan perbedaan kepentingan, menyelesaikan percecokan, perselisiahan, dan pertentangan, atau sering disebut dengan istilah konflik, dapat diselesaikan dengan "bernegosiasi" dengan pihak-pihak terkait. Oleh karena itu diperlukanlah seseorang yang memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dengan pihak-pihak lain yang terkait. Contoh :  satu kegiatan Gubernur DKI Jakarta, Bapak Ahok dalam membongkar kawasan kumuh Kali Jodoh untuk dijadikan ruang terbuka hijau, mendapatkan banyak perselisian, pertentangan dan penuh dengan konflik, tapi akhirnya pembongkaran berlansung dengan damai, sehingga saat ini peroses pembangunan ruang terbuka hiaju dapat dijalankan. Bila kita menengok kebelakang daerah tersebut sudah ada sejak zaman Belanda, dan banyak para pejabat berkeinginan untuk tidak digusur dan sebagainya, walaupun faktanya tempat tersebut kumus dan di jadikan tempat prostitusi, transaksi narkoba, dan penyakit-penyakit sosial lainnya , yang harus di gusur dan dibenahi. Inilah terlihat kemampuan bernegosiasi yang menghasilkan atau berhasil,  para warga yang bertempat tinggal dikawasan ini di sediakan perumahan, dan lain-lain.

Begitujuga kasus penyanderaan pelaut Indonesia sebanyak 14 orang oleh pemberontak Abu Sayep, di Philipina, yang telah berlangsung lama, menurut hemat penulis, negosiasi dengan pemerintah Philipina jangan terlalu lama atau membuang-buang waktu, energi dan tenaga, bila negosiasi tidak menghasilkan atau tidak ada hasilnya, maka harus di coba atau di pakai cara lain. Ini hanya pendapat penulis sebagai orang awam di bidang politik.

Bagaimana cara bernegosiasi yang baik, benar dan efektif, tentunya kita harus memahami caranya, yaitu sebagai berikut :

!. Harus mempunyai keberanian untuk mendatangi,  atau mengundang orang yang punya masalah atau berselisih dengan kita, dan duduk bersama untuk membahas masalah yang ada.

2. Harus bisa dan mampu menganggap atau menerima diri orang yang berselisih kita itu adalah seorang sahabat yang baik. Sebagai seorang sahabat yang baik tentu kita layani seperti tamu terhormat, senyum yang ramah, tutur kata yang sopan dan santun, tingkah laku yang beretika, menjadi pendegar yang baik dan sangat penuh perhatian, dan lain-lain.

3. Ketika kita mulai berdiskusi dengan orang tersebut, kita harus selalu mempunyai pandangan yang tidak menyinggung perasaannya, merendahkan, dan meremehkan pandangannya orang tersebut, bahkan kita harus sebaliknya memberikan masukan dan pandangan tentang masalah yang terjadi dan yang sedang kita hadapi bersama.

4. Kita harus punya kemampuan untuk menyakinkan orang tersebut, bahwa sebenarnya kita akan membantu orang tersebut dan berada dipihak orang tersebut, atau disisi mereka.

5. Kegiatan di atas, harus kita lakukan berulang-ualang atau terus menerus secara berkesinambungan atau konsisten sampai menghasilkan hasil.

6. Bila waktu yang kita gunakan terlalu lama dan juga tidak terjadi kesepakatan dan atau sulit mencapai kesapakan, atau kegiatan negosiasi yang kita lalukan tidak menghasilkan apa-apa, maka kita harus menggunakan cara lain yang lebih mengena dan pastikan akan ada hasilnya.

Berdasarkan kepentingannya,  kemampuan negosiasi ini harus dimiliki semua orang di berbagai jenis profesi atau pun apapu profesinya. Khusus untuk tenaga penjual kemampuan ini sangat mendukung prosesi mereka, karena tenaga penjual harus menciptakan posisi win-win solution, atau posisi menang-menang bila ingin transaksi penjualan yang mereka lakukan berhasiil. Kemampuan bernegosiasi sama juga artinya dengan kemampuan berkomunikasi menang-menang, bukan kalah menang atau menang kalah.

Seorang tenaga penjual yang sukses, juga merupakan seorang negosiator yang ulung, karena mereka tiap hari melakukannya, kemampuannya terasah dengan menghadapi berbagai macam karakter yang menjadi calon konsumennya, yang harus diajak untuk bernegosiasi membeli barang atau jasa yang ditawarkannya.


Terima kasih.... Salam sukses sampai akhir ......... 







Selasa, 26 April 2016

Menciptakan Peluang



Sebagai seorang tenaga penjual yang tangguh, sudah seharusnya memiliki insting yang tajam dan mata yang jeli dalam melihat pasar dan mengelolanya sampai terciptanya kesempatan atau peluang di dalam berbagai situasi dan kondisi apapun.
Adapun cara yang paling mudah untuk menciptkan peluang dan atau kesempatan adalah rubahlah masalah dengan keyakinan menjadi tantangan, dan rubahlah tantangan menjadi peluang atau kesempatan dengan berkerja keras, berkerja pintar, bekerja ikhlas, dan bekerja habis-habisan.
Ilustrasi dalam praktik, seorang tenaga penjual atau direct selling di bidang Farmasi, ketika mendatangi sebuah rumah sakit, dan saat itu hujan sangat lebat, oleh karena tenaga penjual tersebut mengendarai sepeda motor, tentunya akan kehujanan, ini adalah masalah, dan harus merubahnya menjadi tantangan dengan keyakinan, Contoh Keyakinan : " Terima kasih ya Tuhan, Engkau telah berikan hujan yang lebat saat ini, saya yakin tenaga penjual dari perusahaan kompetiter, banyak yang berteduh, dan para dokter yang mau ditemui kemungkinan mudah ditemui karena saat hujan lebat seperti ini tidak ada yang keluar ruamah sakit. Inilah tantangannya, tenaga penjual tersebut, harus merubahnya menjadi peluang dengan bekerja keras,  terus bekerja dengan menerobos lebatnya hujan, tenaga penjual tersebut menggunakan jas hujannya dan pelan-pelan memacu sepedah motornya hingga sampai ke rumah sakit yang dituju. Akhirnya, peluang atau kesempatan di dapatnya tidak terlalu banyk tenaga penjual dari perusahaan lain yang menjadi kompetiternya di rumah sakit ini, dan juga dokter yang akan ditemuinya sangat mudah, karena para dokter nggan atau menunda  keluar ruangan kerjanya, dikarenakan hujan yang sangat lebat.   
Kesimpulan yang dapat penulis ungkapkan dan mudah-mudahan ini tidak salah dan menyalahkan adalah bahwa peluang atau kesempatan muncul karena adanya masalah, kesempitan, kesulitan, kesusahan, hambatan dan lain-lain. Nah, tugas kitalah mensikapinya dengan pengalaman dan kemampuan kita, untuk merubahnya menjadi peluang atau kesempatan.
Menurut hemat penulis, peluang atau kesempatan itu selalu ada dan datangnya berkali-kali, penulis tidak atau kurang sepaham bila dikatakan kesempatan itu datangnya hanya sekali, masalahnya adalah banyak orang yang tidak mengetahui dan tidak mau menggunakan kesempatan yang datangnya berkali-kali tersebut.Contoh kita mau menjadi kaya raya, kesempatannya banyak sekali, yaitu sebatas umur usia kita pada usia remaja sampai saat ini, akan tetapi banyak orang yang tidak menggunakan kesempatan dalam hal ini, waktu, untuk berbuat, bekerja, dan berusaha mencapai keinginannya menjadi kaya raya itu, begitu juga banyak jenis pekerjaan dan jenis usaha dan juga kiat-kiat atau strategi sukses menjadi kaya raya yang tidak dipakai atau digunakan. Inilah alasan penulis, tidak begitu sepaham bila ada yang mengatakan peluang atau kesempatan itu datangnya hanya sekali saja.

Salam Sukses Selalu Menjadi Tanaga Penjual Yang Tangguh...